Higgs Domino Committee Menyampaikan Permintaan Maaf Terhadap Domino Online

Higgs boson adalah partikel yang diramalkan oleh para ilmuwan 65 tahun lalu dan telah menjadi subyek perdebatan sengit sejak penemuannya. Bagian dari kontroversi menyangkut apakah itu benar-benar ada atau tidak. Bagian lain dari debat melibatkan apakah bukti yang dibuat oleh partikel tersebut konsisten dengan prediksi yang dibuat oleh para ilmuwan tersebut atau tidak. Singkatnya, orang-orang marah karena mereka tidak tahu apa itu Higgs boson! Jadi, mari kita lihat lebih dekat partikel yang menarik ini dan apa yang membuatnya begitu istimewa.

Pada Juli 2021, Higgs Boson menjadi pusat kontroversi ketika empat tim terpisah bertaruh bahwa partikel itu tidak akan ada. Tim-tim ini dibentuk oleh para peneliti yang bekerja sama menggunakan fasilitas European-Lazard European Center for particle physics (CLEP). Para peneliti yang membuat prediksi tersebut termasuk para profesor dari Universitas Jenewa, Paris, Spanyol, dan Italia. Hasilnya adalah bahwa partikel itu memang ditemukan ada, tetapi dalam bentuk yang sedikit berbeda dari yang semula diharapkan. Setelah penemuan itu, para peneliti melanjutkan dengan mengatakan bahwa perhitungan mereka salah dan bahwa Higgs boson seharusnya diproduksi dengan kecepatan yang sangat lambat.

Tim lain yang membuat klaim tersebut berasal dari CERN, Organisasi Penelitian Nuklir Eropa (CERN). Kelompok yang memiliki bukti dengan kuat menunjukkan bahwa Higgs boson diciptakan dari quark yang dihasilkan oleh tabrakan di dalam Large Hadron Collider (LHC). Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa jumlah energi yang dibutuhkan untuk membuat partikel ini terlalu rendah untuk membuat partikel Higgs secara kebetulan. Berdasarkan bukti ini, para ahli percaya bahwa Higgs boson dihasilkan ketika partikel yang mengandung anti-materi terbelah, bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya, dan saling menyerang.

Para ilmuwan yang terlibat dalam penyelidikan berhati-hati untuk mencatat bahwa ini hanya bukti dan bukan bukti bahwa Higgs ada. Bagi mereka, lebih banyak bukti yang menunjukkan bahwa mungkin ada banyak partikel lain yang berkontribusi pada penciptaan Higgs, dan belum tentu bukti konklusif bahwa partikel itu benar-benar ada. Namun, mereka berharap partikel tersebut akan segera ditemukan sehingga para ilmuwan dapat menentukan sifatnya dan mempelajari sifat-sifatnya. Bahkan jika partikel tersebut belum terdeteksi, itu sudah menjadi bagian penting dari sains karena para peneliti melihat ke dalam tatanan realitas.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Profesor Peter Woitgeboe dari Universitas Sydney dan Profesor Martin Hodgson dari Universitas Melbourne di Australia. Tim lain yang berkontribusi dalam penelitian ini adalah Universitas California, Los Angeles, dan Universitas Seton Hall. Ada lebih dari 100 ilmuwan dari berbagai tim yang mengerjakan eksperimen Higgs.

Tim eksperimental didanai oleh hibah dari FERS (Food and Drug Administration), Komisi Eropa, National Institutes of Health, National Science Foundation, dan Royal Society. Biaya proyek ini jutaan dolar, tetapi sangat berharga karena meletakkan dasar untuk pencarian Higgs boson. Eksperimen tersebut menggunakan dua detektor yang masing-masing berdiameter sekitar setengah sentimeter. Mereka juga memiliki detektor yang mengukur energi pada frekuensi yang lebih tinggi daripada yang standar.

Eksperimen detektor dilakukan selama tiga tahun, tetapi hanya berhasil mendeteksi partikel kurang dari satu persen. Mereka juga menemukan bahwa kekuatan temuan mereka sangat bergantung pada frekuensi getaran sistem. Ini berarti bahwa semakin kecil sistemnya, semakin rendah peluang untuk menemukan boson Higgs. Ini kabar baik, karena membuktikan bahwa struktur yang paling bermuatan tinggi pun dapat memiliki getaran yang dapat diabaikan, yang membentuk sebuah partikel.

Kolaborasi berhasil karena tidak hanya eksperimen tersebut sukses besar tetapi juga merupakan terobosan baru. Komunitas ilmiah bersenang-senang sambil menunggu penemuan besar berikutnya, tetapi masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk melengkapi peta wilayah utama Higgs boson. Jika sebuah partikel, seperti Higgs, ada, maka properti yang dimiliki partikel juga akan menjadi informasi penting tentang cara kerja alam semesta. Jika seorang ilmuwan menemukan partikel lain yang memiliki karakteristik dasar yang sama dengan Higgs, kemungkinan untuk menemukan partikel kecil serupa lainnya di masa depan akan sangat luas.